Latar Belakang

Berpijak pada gagasan Pidato Bung Karno 30 September 1960 di Muka Sidang Umum PBB: To Build The World A New yang dimaknakan sebagai membangun dunia kembali. Membangun dunia kembali artinya membangun fitrah manusia di dunia. Dalam suatu guratan sejarah tersebut, founding fathers kita telah tegaskan bahwa perjuangan bangsa Indonesia bukan hanya untuk bangsa Indonesia saja tetapi suatu perjuangan untuk umat manusia sedunia. Sebelumnya juga sudah ditegaskan dalam gagasan perjuangan negara-negara Asia dan Afrika. Let a New Asia and Africa be Born dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, 18 April 1955 - So, let this Asian-African Conference be a great success! Make the "Live and let live" principle and the "Unity in Diversity" motto the unifying force which brings us all together-to seek in friendly, uninhibited discussion, ways and means by which each of us can live his own life, and let others live their own lives, in their own way, in harmony, and in peace.

Paragraf pertama di atas telah meriwayatkan bahwa cita-cita Pancasila sebagai Dasar Negara tidak semata untuk Indonesia, melainkan untuk peradaban dunia. Dalam situasi dunia saat ini, dimana pergolakan ideologi global menjadi sangat luas dan beragam. Sebagai contoh, beragamnya banyak agama di Indonesia yang terkadang menjadi alasan pemicu konflik horizontal antar umat beragama, ekonomi yang mulai berpindah dari sistem kekeluargaan (contoh: koperasi/pasar tradisional) menjadi sistem kapitalisme dimana keuntungan merupakan tujuan utama, fenomena proxy war, masifnya terorisme/radikalisme, dsb. Masih banyak lagi hal dalam kehidupan warga negara Indonesia yang dipengaruhi oleh gerak cepat pergeseran ideologi global yang mengarah pada ancaman ideoogi nasional, Pancasila. Pada posisi ini kita tidak bisa menutup mata bahwa arus gerak globalisasi telah mengalami perubahan yang begitu cepat. Hal tersebut sudah tentu memberi dampak bagi setiap negara, tidak terkecuali bangsa Indonesia, meskipun ada peluang yang tercipta, namun demikian ibarat dua sisi mata uang, selalu ada sisi lain yang harus diperhatikan yakni ancaman secara ideologis atas geopolitik dan geostrategi bangsa Indonesia.

Dalam perspektif ideologi Pancasila, berbagai masalah di atas, perlu dicari solusi pemecahannya secara mendasar, salah satunya dengan meletakkan kembali Pancasila sebagai bagian dari pembelajaran geopolitik dan geostrategi. Hal tersebut secara logis juga memberikan dorongan agar pemerintah secara konsekuen menghidupkan wawasan kebangsaan untuk mendidik warga negaranya dalam setiap jenjang pendidikan. Beberapa point pokok persoalan di atas tentunya menjadi kegelisahan serta keprihatinan kita bersama. Oleh karena itulah pada kesempatan kali ini, dalam Kongres Pancasila IX yang juga menjadi momentum yang begitu istimewa yakni telah ditetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahirnya Pancasila yang berdasar pada Keputusan Presiden (Keppres) No. 24 Tahun 2016. Keppres tersebut memberi penjelasan bahwa Pancasila sebagai dasar dan ideologi Negara Republik Indonesia harus diketahui asal usulnya oleh bangsa Indonesia dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi, sehingga kelestarian dan kelanggengan Pancasila senantiasa diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Tentu saja dalam kongres kali ini tidak hanya berhenti pada diskurs atas konsep semata namun juga harus terwujud dalam kebijakan secara konkret dilapangan. Sebagaimana telah kami jelaskan dalam proses penyelenggaraan Kongres Pancasila sebelum-sebelumnya, bahwa sejak dilahirkannya Kongres Pancasila I hingga Kongres Pancasila VIII selalu memiliki keterkaitan atau benang merah yang secara konseptual dan implementatif saling melengkapi. Kongres Pancasila IX tahun 2017 yang akan berlangsung di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta merupakan kelanjutan dari kongres-kongres Pancasila sebelumnya. Masing-masing kongres memiliki titik perhatian yang berbeda, namun berkesinambungan.

Kongres Pancasila I di UGM Yogyakarta Tahun 2009 dan Kongres Pancasila ke II di Universitas Udayana, Denpasar Tahun 2010 secara mendasar lebih mengarah pada penguatan wacana dan perumusan bersama masalah berbangsa dan bernegara secara lebih jernih. Kongres Pancasila III di Universitas Airlangga Surabaya Tahun 2011, mengarah pada penggalian dan pencarian model-model pembudayaan nilai-nilai Pancasila dan pelembagaannya yang berjangkar pada pengalaman empiris berbagai pemangku kepentingan. Kongres Pancasila IV di UGM, Yogyakarta, menekankan pada dimensi institusionalisasi nilai-nilai Pancasila. Berikutnya, Kongres Pancasila V Tahun 2013 menitik beratkan pada strategi pembudayaan nilai-nilai Pancasila di berbagai bidang, dan terakhir Kongres Pancasila VI di Universitas Pattimura, Ambon, Tahun 2014, menitik beratkan pada penguatan, sinkronisasi, harmonisasi, integrasi pelembagaan dan pembudayaan Pancasila dalam rangka memperkokoh kedaulatan bangsa. Dan terakhir Kongres Pancasila VII di UGM, Yogyakarta yang menitikberatkan pada pentingnya penguatan basis ideologi dan implementasi kongkret atas program-program pemerintah kepada kawasan 3 T (Terluar, Terdepan Tertinggal). Terakhir Kongres Pancasila VIII menekankan pada aktualisasi kembali Tri Sakti dalam mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur.

Agar tema besar "Pancasila Jiwa Bangsa: Dinamika, Tantangan, dan Aktualisasi di Indonesia” tersebut dapat dibahas secara mendalam, maka dalam rangka menguatkan pembahasannya, tema dijabarkan menjadi tiga subtema, yakni:

  1. Sub Tema I : Deradikalisasi dan Tantangan Pembudayaan Pancasila di Media Sosial.
  2. Sub Tema II :Kurikulum Pendidikan Pancasila di Berbagai Jenjang Pendidikan
  3. Sub Tema III: Tantangan Pancasila di Bidang Ekonomi, Politik, Sosial, Agama, Budaya, Pertahanan dan Keamanan.
  4. Sub tema IV : Pancasila dan Generasi Muda
  5. Subtema V : Tanggungjawab negara dan masyarakat dalam Mengaktualisasikan Pancasila

Dipahami bersama bahwa pelaksanaan Kongres Pancasila IX ini selain wajib memperhatikan keberlanjutan tema-tema kongres sebelumnya, wajib pula memperhatikan realitas empiris bahwa ternyata tidak semua peserta kongres telah mengikuti perjalanan kongres sejak awal, sehingga pembahasan dan diskusi sering stagnan pada masalah-masalah yang bersifat normatif. Agar stagnasi tersebut dapat didinamisir, maka Kongres Pancasila IX ini didesain sebagai upaya bersama dalam menjawab tantangan lokal, nasional, dan global berdasar nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian, melalui kongres ini terbuka kesempatan untuk menyoroti persoalan dan dinamika yang menjadi tantangan bangsa Indonesia baik saat ini maupun tantangan di masa depan. Pembahasan atas masalah-masalah tersebut akan ditampung pada Pleno, Diskusi Panel, sementara berbagai fakta empiris sebagai cermin kepahaman publik terhadap Pancasila akan diakomodasi dalam call for papers atau poster yang dipersentasikan di Sidang Komisi.

Roh dan semangat yang menuntun seluruh pembicaraan dalam Kongres Pancasila IX adalah nilai-nilai Pancasila dan tujuan negara yang termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945, yakni: “...untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial ...”, selanjutnya secara deduktif digunakan sebagai kerangka pemikiran dalam membahas persoalan-persoalan politik, ekonomi, dan sosial-budaya dalam rangka membangun kedaulatan bangsa. Dengan metode demikian diharapkan berbagai permasalahan yang ada dan terjadi, dapat dibahas secara utuh dan menyeluruh dalam kongres ini.  

Nama Kegiatan

Kegiatan ini bernama Kongres Pancasila IX dengan tema "Pancasila Jiwa Bangsa: Dinamika, Tantangan, dan Aktualisasi Pancasila di Indonesia”

 

Tujuan

  1. Memberikan wawasan dan tawaran solusi mengenai problematika kebangsaan yang saat ini sedang terjadi baik pada ranah lokal, nasional, maupun global.
  2. Memberikan tawaran solusi mengenai upaya membangun kedaulatan bangsa dengan mengimplementasikan kembali roh dan semangat Pancasila dalam proses penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  3. Memperkenalkan ideologi Pancasila untuk perdamaian dunia, sebagai ideologi yang lebih unggul dibanding dengan ideologi lain di dunia. Sekaligus menegaskan kembali perjuangan bangsa Indonesia untuk dunia melalui Pancasila.
  4. Menguatkan jejaring masyarakat Pancasila sebagai subyek dalam mengimplementasikan Pancasila sebagai ‘ideologi kerja’ sehingga menjadi pionir dalam membangun kedaulatan bangsa.

 

Capaian (Output)

Kesimpulan, Rekomendasi, dan Deklarasi

 

Outcome

Terwujudnya kebijakan-kebijakan strategis sebagai solusi konkrit bagi persoalan-persoalan kebangsaan sehingga mendorong lahirnya kedaulatan bangsa pada ranah lokal, nasional, dan global.

 

Waktu dan Tempat

Kegiatan dilaksanakan selama 3 (tiga) hari yaitu:
1. Kursus Pancasila hari Kamis, 21 Juli 2017 di Balai Senat UGM.
2. Kongres Pancasila IX tanggal 22-23 Juli 2017 di Balai Senat UGM.

 

Peserta

Kegiatan Kursus dan Kongres Pancasila ini akan diikuti sebanyak 400 (empat ratus) orang yang terdiri dari akademisi, praktisi, guru, dosen, perwakilan instansi-instansi pemerintah, tokoh masyarakat dan insan-insan peduli Pancasila.

   



Informasi Penting

Bagi peserta kongres yang telah mempresentasikan abstrak, silakan mengirimkan full papers/makalah kepada panitia melalui email: kongrespancasila2017@gmail.com dan konfirmasi pengiriman melalui WA/SMS ke 08562924404 (Sdr. Rakha). Batas pengiriman makalah/full papers terhitung maksimum 30 hari setelah dipresentasikan dalam Kongres Pancasila IX.

Bagi yaang belum mengambil Sertifikat Pemakalah bisa diambil di Sekretariat Pusat Studi Pancasila UGM

Sekretariat

Pusat Studi Pancasila UGM:
Jl. Podocarpus II, D-22 Bulaksumur 55281 Yogyakarta
Phone/Fax: (0274) 553149

Video Kongres Tahun Lalu

Kongres Pancasila VI

Kongres Pancasila V

Kongres Pancasila IV

Kongres Pancasila I